Fokus Pendampingan Keluarga Anak Bunuh Diri di NTT oleh Menteri PPPA

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengungkapkan bahwa pemerintah tengah melakukan pendampingan terhadap keluarga siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tragis mengakhiri hidupnya sendiri akibat masalah ekonomi. Pendampingan ini bertujuan untuk memperkuat keluarga serta memenuhi hak pendidikan dan pemulihan psikologis bagi anggota keluarga yang ditinggalkan.

Arifah menyampaikan informasi ini pada Sabtu, menyebutkan bahwa tim dari Kementerian PPPA bekerja sama dengan dinas terkait untuk memberikan dukungan yang diperlukan. Fokus utama adalah bagaimana dapat memberikan kekuatan yang diperlukan bagi keluarga korban dalam menghadapi situasi sulit ini.

Pendampingan Keluarga Korban dan Pemulihan Psikologis

Dalam rangka pendampingan, Arifah menjelaskan bahwa upaya ini difokuskan pada anggota keluarga inti yang kini tinggal bersama nenek, ibu, dan dua saudara kandung. Pendekatan ini penting agar keluarga dapat merasakan dukungan yang kuat di tengah kesedihan yang menyelimuti mereka.

Pemerintah daerah juga berkolaborasi dengan lintas dinas untuk memberikan dukungan psikologis dengan mendatangkan psikolog klinis dari kabupaten terdekat. Keterbatasan tenaga profesional di lokasi menjadi alasan utama mengapa bantuan eksternal diperlukan untuk memastikan pemulihan yang optimal bagi keluarga.

Dalam hal ini, Kementerian PPPA juga memastikan bahwa hak pendidikan dua kakak korban tetap diperhatikan. Dengan usia 17 tahun dan 14 tahun, kedua kakak ini diharapkan dapat melanjutkan pendidikan mereka meskipun mengalami trauma berat akibat kehilangan.

Faktor Penyebab dan Tanggapan dari Berbagai Pihak

Terkait dengan penyebab peristiwa tragis ini, Arifah menyebutkan adanya akumulasi masalah yang dihadapi oleh korban, di mana kurangnya ruang untuk bercerita mengenai tekanan yang dirasakan menjadi salah satu faktor. Anak tersebut tidak memiliki tempat aman untuk menyampaikan perasaannya, sehingga menimbulkan beban emosional yang berat.

Tragedi ini pun menarik perhatian dari berbagai kalangan, termasuk Presiden yang memberikan perhatian khusus terhadap situasi ini. Permintaan untuk kementerian terkait agar berkoordinasi demi menghindari kejadian serupa di masa depan menunjukkan keseriusan dalam menanggapi masalah ini.

Sekretaris Negara juga mengonfirmasi bahwa pemerintah telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Sosial untuk memberikan penanganan kepada keluarga korban dan merancang langkah-langkah pencegahan di masa mendatang.

Kejadian Ini Sebagai Tamparan Keras bagi Kemanusiaan

Gubernur NTT menegaskan bahwa peristiwa ini adalah kegagalan sistemik dalam mendeteksi dan menanggapi kondisi kerentanan yang dihadapi keluarga korban. Dia menilai kejadian ini sebagai menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih peka dan antisipatif terhadap situasi masyarakat yang rentan.

Korban, seorang siswa kelas IV SD berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia pada tanggal 29 Januari. Lokasi kejadian berada tidak jauh dari tempat tinggalnya bersama nenek yang berusia sekitar 80 tahun, menandaskan betapa dekatnya tragedi tersebut dengan kehidupan sehari-hari di kawasan itu.

Dari hasil investigasi, polisi menemukan sebuah surat tulisan tangan yang ditujukan kepada ibunda korban. Surat tersebut berisi pesan perpisahan, permintaan agar ibunya tidak menangis, yang semakin menambah duka mendalam dari tragedi ini.

Related posts